Sahabat.com - Kementerian Pariwisata menggenjot promosi kuliner tradisional, aneka kegiatan dan keselamatan berwisata menjelang 2 tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Kami ingin menunjukkan bahwa akar tradisi dan kekayaan lokal Indonesia dapat menjadi kekuatan untuk membawa gastronomi kita menuju panggung dunia," kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Jakarta, Jumat.
Widiyanti mengatakan dalam mengenalkan kekayaan kuliner Indonesia, Kementerian Pariwisata menggelar Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) yang pada tahun ini berfokus di Solo dan Yogyakarta dengan mengangkat tema “From Local Roots to Global Recognition”.
Rangkaian kegiatan mempertemukan chef Indonesia dan chef internasional. Tastemaker Gastronomy Trip melibatkan 18 media dan tastemaker dari 11 negara, sedangkan WIG Talks menghadirkan 22 pakar dari pemerintah dan industri dengan jumlah peserta melampaui target 300 orang.
Artisan Market selama tiga hari menghadirkan 21 tenant dari jenama lokal dan 13 kolaborator serta menarik lebih dari 2.000 pengunjung, jauh melampaui target 1.300 peserta.
Aktivasi lanjutan hingga akhir tahun mencakup Indonesia Restaurant Months, Culinary Festival, dan Chef Collaboration di sejumlah kota yang terbuka untuk publik.
"WIG bukan sekadar festival kuliner, tetapi platform jangka panjang untuk memperkuat ekosistem gastronomi, memperluas pasar produk lokal, membuka peluang bisnis dan kolaborasi, serta menjadikan gastronomi bagian penting dari pengalaman berwisata di Indonesia,” kata dia.
Widiyanti kemudian menyampaikan dengan beberapa kejadian bencana alam hingga kecelakaan belakangan waktu ini, pemerintah kian memperkuat keamanan serta keselamatan di sektor pariwisata.
Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada awal September berdampak pada mobilitas penerbangan. Berdasarkan laporan InJourney Airports per 8 September, sebanyak 35 bandara terdampak dengan 4.132 penerbangan dan 454.551 penumpang terdampak.
Kementerian Pariwisata berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan, termasuk Online Travel Agents, untuk mendorong penerapan force majeure, mempercepat pengembalian dana, serta menyediakan opsi perubahan jadwal tanpa biaya tambahan bagi wisatawan terdampak.
“Pertumbuhan pariwisata harus disertai kesiapsiagaan menghadapi krisis. Prinsip kami jelas, keselamatan wisatawan harus selalu menjadi prioritas,” kata Widiyanti.
Pasca kebakaran pada Agustus 2026 lalu, Kementerian Pariwisata juga melakukan pendampingan dalam pemulihan Dusun Sade, Nusa Tenggara Barat.
Pada 30 September 2026, bantuan usaha dan alat kerja senilai Rp817,5 juta diserahkan dalam bentuk 15 alat tenun gedogan, modal kerja bagi 69 UMKM, 70 paket bahan baku tenun, serta 43 paket alat kerajinan non-tenun. Dukungan lainnya mencakup penguatan kapasitas pemandu lokal, promosi dan peluncuran kembali aktivitas wisata, penyusunan katalog produk, penguatan branding, serta pemasaran digital.
“Pemulihan destinasi tidak cukup hanya dengan membangun kembali fisiknya. Ekonomi masyarakat juga harus kembali hidup. Kita ingin Sade bangkit menjadi destinasi yang lebih aman dan tangguh tanpa kehilangan karakter budaya, kearifan lokal, dan autentisitas yang menjadi kekuatannya,” tambahnya.
Dari sisi event, program Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 telah mendukung 125 event daerah terkurasi di 38 provinsi. Hingga 30 September 2026, sebanyak 89 event telah terselenggara di 34 provinsi.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyebut dari 78 event yang telah dikaji dampaknya, tercatat 9,97 juta pengunjung dan Rp888,52 miliar transaksi ekonomi langsung, belum termasuk efek pengganda.
Penyelenggaraan event tersebut juga melibatkan 19.866 UMKM dan 120.642 pekerja seni serta membuka lapangan kerja bagi 58.077 tenaga kerja.
“Inilah yang ingin kita dorong melalui Event by Indonesia. Event bukan hanya menjadi atraksi, tetapi motor pergerakan wisatawan dan ekonomi daerah,” ucap Ni Luh.
Lebih lanjut, Kementerian Pariwisata juga meluncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027, publikasi yang memuat perkembangan, prospek, dan isu strategis pariwisata Indonesia.
“Geopolitik, perubahan iklim, perkembangan teknologi, hingga perubahan perilaku wisatawan akan menentukan wajah pariwisata ke depan. Karena itu, kita membutuhkan kebijakan dan keputusan industri yang semakin berbasis data, antisipatif, dan adaptif,” katanya.
Ni Luh berharap outlook tersebut menjadi referensi bagi pemerintah, industri, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun pariwisata yang berdaya saing, berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
Sumber: ANTARA
0 Komentar
Kemenpar Genjot Promosi Kuliner
Yogyakarta Masih Operasikan Selter Penanganan COVID-19
Leave a comment